Hari ini aku akan memulai ceritaku tentang pengalaman yang baru saja aku jalani. Ya, walaupun baru saja, itu sudah bisa menjadi sebuah kesimpulan buatku.
Obsesi untuk ingin merengkuh kebahagiaan dengan berusaha untuk merantau jauh meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan pekerjaan kantoran dengan salary yang memadai, dengan segenggam harapan untuk bisa merengkuh jenjang karier yang lebih tinggi pula dan tentunya dengan penampilan yang bisa menunjukkan kalau aku ini adalah orang yang bekerja dalam sebuah kantor yang akan mendapatkan image yang wah dari orang lain. Walaupun dengan konsekwensi meninggalkan keluarga dan orang-orang sudah dekat dengan aku.
Memang, apabila kita belum menjalankannya. Keinginan untuk itu benar-benar menggebu-nggebu, mengalahkan semua hal lain yang ada di benak kita. Seolah-olah itu sudah menjadi sebuah tekad yang bulat, yang bisa atau tidak bisa harus digapai. Harga mutlak menurut kita. Apalagi kalau itu semua di dukung dengan perjuangan kita yang dengan susah payah menghabiskan waktu dan pikiran dengan bersekolah sampai jenjang yang lebih tinggi. Tak sedikitpun memikirkan apa saja yang akan terjadi nantinya di kemudian hari, lebih – lebih di tempat kita bekerja. Opini berkata “ itu adalah resiko, itu adalah bagian dari sebuah perjalanan sekaligus perjuangan untuk mendapatkan apa-apa yang kita inginkan”. Semuanya butuh pengorbanan, butuh ketegaran hati untuk menghadapi resiko yang akan terjadi. Itu semua adalah sudah menjadi hokum alam. Kalau kita ingin merubah nasib, maka kita harus siap menerima tantangan yang ada di depan kita. Seberapa besar tantangan itu, kita harus bisa menghadapinya, harus tabah menjalankannya.
Kalau kita tidak mau atau tidak bisa menghadapi tantangan itu, berarti kita memang tidak bersungguh – sungguh dengan tekad itu, dengan apa – apa yang telah kita rencanakan dan cita – cita kan sebelumnya. Menyerah pada keadaan, menyerah pada nasib. Tipe orang yang mudah putus asa, sikap mental yang lemah. Dengan sedikit cobaan yang di berikan oleh tuhan, dengan sedikit rintangan di permulaan langkah yang memang harus di hadapi untuk merengkuh sesuatu ternyata kita sudah menyerah.
Tapi kawan, obsesi – obsesi itu. Apakah sudah pasti akan mendatangkan kebahagian pada diri kita jika memang itu semua sudah tergapai. Apakah secara otomatis kebahagiaan hidup akan mengikuti keberhasilan kita untuk mendapatkan sesuatu. Apakah kebahagiaan hidup di dunia akan tercapai hanya dengan kita bisa memenuhi semua yang kita inginkan. Kebahagiaan akan mengikuti materi.
Kurasa itu salah kawan, berdasarkan pengalamanku. Kebahagiaan tidak secara otomatis serta merta akan mengikuti kita jika kita sudah mendapatkan semuanya. Ya, jika kita bicara masalah keinginan dan kebutuhan, dan problematika hidup. Bila kita sudah punya semuanya katakanlah pekerjaan yang bagus, salary yang besar. Kita akan bahagia dalam kehidupan dunia. Karena bayangan kita apa – apa yang menjadi keinginan kita dengan gampang kita bisa memenuhinya karena kita memang punya cukup uang untuk mendapatkannya. Tapi kawan kita tidak bisa membohongi ketenangan dan ketentraman hati, bahwa ketenangan, ketentraman, dan kedamaian hati tidak bisa di ukur dengan materi, tidak hanya bisa dinilai dengan kemampuan kita untuk mendapatkan semua keinginan yang bisa di beli dengan materi.
Aku sendiri sudah merasakan, keinginanku untuk mendapatkan pekerjaan yang jauh dari kampong halaman sekaligus dengan salary yang besar pula ternyata tidak bisa membuatku bahagia, tidak bisa aku untuk merasakan kedamaian hati. Walaupun keinginanku untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan aku sudah bisa untuk mendapatkannya. Aku sendiri tidak bisa membohongi hati, kalau hati ini sebenarnya masih merasakan gundah, tidak ada sedikitpun kesenangan yang aku dapatkan. Kalau memang aku bisa merasakan kesenangan dengan bisa memenuhi semua keinginanku, itu hanyalah kesenangan semu dan sesaat. Selanjutnya aku akan kembali pada perasaan hati yang tak tentu.
Bagiku kebahagiaan dan ketentraman hati bukan terletak pada materi semata, Aku sendiri sebenarnya belum tahu dimana sebenarnya kebahagiaan akan aku dapatkan. Yang jelas disini di tempatku kerja aku belum atau mungkin tidak pernah mendapatkan kebahagiaan karena dari permulaaannya saja aku sudah merasakan ketidaknyamanan di sini. Orang-orang di kantor semua baik, tapi apakah dengan kebaikan itu akan membuat kita cocok dan akrab dengan lingkungan dan orangnya. Belum tentu. Baik belum tentu cocok dengan kita. Itu menurutku.
Dengan kondisi yang seperti ini, akupun ingin memutuskan untuk kembali ke kampong atau juga kalau ada kesempatan lain aku akan mencari pekerjaan dimana aku bisa merasakan kenyamanan dan kedamaian hati. Yang jelas tempat dimana aku bekerja tidak jauh dari asalku. Menerima apa – apa yang sudah tuhan berikan kepadaku ( Menerima bukan berarti menyerah pada nasib ). Sebenarnya sudah ada pekerjaan buatku, sebuah pekerjaan yang memang sudah menanti aku sejak dulu, yang sudah menjadikanku bisa bersekolah hingga aku dapat menyelesaikan jenjang pendidikanku hingga mendapatkan title. Pekerjaan yang memang aku harus meneruskan karena itu adalah latar belakang kehidupanku. Hanya saja aku belum siap untuk itu.
Sepertinya kembali ke asal akan membuatku menemukan kebahagiaan.
Jakarta, 27 Mei 2009
Ditulis oleh: Sumaji